SELAMAT DATANG DI BLOG " GANESA SCOUT " UPTD SMP NEGERI 1 GAMPENGREJO KEDIRI

Gambar Scout

Gambar Scout

Senin, 21 September 2015

Penanaman Pancasila Perlu Libatkan Guru Agama



Ada kecenderungan generasi muda saat ini bersikap masa bodoh terhadap ideology Pancasila. Namun ada juga sebagian generasi muda yang ingin agar Dasar Negara RI diganti dengan agama tertentu. Perlu ada terobosan yang lebih kuat dalam dunia pendidikan agar pemahaman Pancasila dapat mengakar pada sanubari generasi masa depan bangsa.
Pada bulan Maret 2015 silam, lembaga Setara Institut melaksanakan survey lokal mengenai Pancasila di Bandung dan Jakarta. Hasilnya cukup mencengangkan. Dari 684 responden siswa dari 58 sekolah di dua kota ini, sebanyak 8,5 % siswa setuju Pancasila sebagai dasar negera digantikan dengan agama tertentu. Survei ini dilakukan pada tanggal 9 sampai 19 Maret 2015.
Survei ini memang terlalu dini jika dijadikan parameter secara nasional. Namun jika diambil sisi positifnya, survey ini sebagai secuil gambaran yang ada dalam benak generasi muda saat ini. Survei ini bisa juga sebagai peringatan dini atau early warning bagi pengambil keputusan khususnya di dunia pendidikan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi degradasi nilai Pancasila.
Jika selama ini peran penanaman nilai Pancasila di sekolah hanya dibebankan kepada guru PKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) maka sungguh kasihan mereka. Apalagi jumlah jam mata pelajaran sangat sedikit  yakni hanya 2 jam seminggu. Apalagi dengan waktu sesingkat itu, tidak hanya Pancasila saja yang diberikan, tapi juga materi lain yang menyangkut kewarnegaraan. Jadi merosotnya nilai-nilai Pancasila tidak bisa dibebankan kepada guru-guru PKn.
Mestinya , pemerintah melalui Menteri Pendidikan menyadari kondisi ini, dan segera membuat langkah yang strategis. Misalnya dengan penanaman Pancasila dengan mengerahkan semua tenaga pengajara di sekolah. Setiap guru diberi kewajiban yang sama untuk menggembleng karakter siswa dengan menyusupkan nilai Pancasila dalam setiap mata pelajaran yang diberikannya. Namun sebelumnya dilakukan pembekalan untuk semua guru agar lebih mudah dan tepat cara menyampaikan kepada siswa.

Libatkan Guru Agama dan lembaga pendidikan Islam
Pengamat Pendidikan, Darmaningtyas, menilai hasil survey itui merupakan cermin dari kegagalan pendidikan agama sebagai pembentuk karakter, sehingga yang lahir bukan manusia yang berkarakter tetapi sikap fundamental dan dogmatis. Tanggapan persetujuan agama menjadi dasar negara merupakan cerminan dari sikap dogmatis dan fundamental siswa sebagai dampak dari ajaran guru, khususnya guru agama.
“Guru agama mengajarkan sikap dogmatis terhadap salah satu agama. Selain peran serta guru agama, tidak menutup kemungkinan untuk lain. Seperti guru matematika di sela- sela mata pelajaran yang diajarkan, ditanamkan doktrin kepada salah satu agama,” ujar Darmaningtyas.
“Tidak kaget, dengan hasil survei tersebut, dari dulu sudah diperkirakan jika pelajaran agama diberikan itu akan menambah sikap dogmatis siswa,” ujarnya.
Di negara yang plural seperti Indonesia, menurut dia, sangat penting Pancasila sebagai dasar negara dan pedoman hidup untuk menumbuhkan sikap toleransi.
Survei yang mencengangkan tersebut, menurut Darmaningtyas, terjadi karena para siswa tidak membaca buku lahirnya Pancasila yang ditulis oleh Soekarno, yang menjadi pegangan dan kesatuan negara.
” Jika negara hidup dengan satu agama kita dapat melihat contoh di Timur Tengah dan Amerika yang lebih mengutamakan satu agama, sikap toleransi sangat kecil dimiliki,” katanya.
Pada Kesempatan berbeda, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, Pancasila merupakan dasar negara dan sangat penting, sehingga survei di tingkat SMU Jakarta dan Bandung yang menyetujui untuk menganti Pancasila sangat tidak sesuai dengan Pancasila sebagai pedoman dan dasar negara.
Anies mengaku ke depannya, Pancasila akan menjadi pelajaran yang rutin layaknya seorang guru yang menjalankan piket setiap hari. Mengenai perlunya buku pelajaran khusus, Mendikbud mengaku belum dapat dijelaskan seperti apa ke depannya. Ia lebih menargetkan menggiatkan kembali peran Pancasila untuk menangkal ancaman radikalisme dari pengaruh ISIS.
“Pancasila sangat penting, ke depannya akan dijadikan seperti kebiasan setiap hari dalam belajar pancasila, sehingga dapat dihayati dan praktikan,” ujar Anies usai penutupan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK), di Depok, Jawa Barat, (31/3) seperti dikutip muslimforall.com
Perlu diketahui system pendidikan di Indonesia selain sekolah dibawah kementrian pendidikan seperti SD. SMP dan SMA, juga ada sekolah sederajat yang dibawah kendali kementrian agama yakni madasrah dan pondok pesantren. Nah, di lembaga pendidikan dalam naungan Kementrian Agama pasti kurikulum pendidikan sarat akan nilai-nilai agama atau moral. Pelajaran agama pasti lebih berat porsinya ketimbang pelajaran yang lain.
Disinilah pentingnya melibatkan guru agama dalam penanaman nilai-nilai Pancasila. Apalagi guru agama memiliki tanggung jawab yang lebih terhadap penanaman nilai moral dan karakter bangsa. Guru agama harus bisa menjabarkan bahwa Pancasila juga mengadopsi nilai-nilai reliji seperti yang  tertuang dalam sila pertamanya. Selain itu, Pancasila merupakan ideology yang cocok dengan semua agama sehingga tidak ada gesekan antara nilai Pancasila dengan nilai moral agama.
Penting juga dikemukakan jika menilik dari latar belakang lahirnya Pancasila, yang rumusannya dibentuk 9 panitia kecil dimana ada 3 tokoh berlatar belakang ulama. Ketiga tokoh ulama ini tentu memiliki ilmu yang sangat mumpuni sehingga bisa menerima Pancasila sebagai dasar Negara. Dan masukan dari mereka pun dirumuskan dalam sila peertama Pancasila yang menyatakan adalah bangsa Indonesia adalah bangsa yang meyakini adanya Tuhan yang maha Esa.
Selain, itu, untuk meminimalisir sikap dogmatis, guru agama juga wajib memupuk rasa toleransi Beragama. Karena kita ketahui Indonesia adalah Negara yang memiliki 6 agama resmi disamping kepercayaan kepada Tuhan YME.  Sehingga diharapkan sikap anak didik agar lebih menghargai keyakinan yang berbeda.
Dan yang paling penting disampaikan adalah peran Pancasila sebagai ideology pemersatu dari kemajemukan bangsa. Tak hanya agama, bangsa Indonesia itu sangat beragam baik golongan, suku dan bahasa. Maka kehadiran dasar Negara yang bisa memayungi semua perbedaan itu yang diharapkan. Para pendiri bangsa memahami kondisi ini, dan tidak ingin bangsa Indonesia akan mengalami perpecahan akibat perbedaan. Maka Pancasila tampil sebagai pemersatu negeri yang Bhinneka Tunggal Ika.


Dudun Parwanto
Pengamat Kebangsaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar